DEAR YOU.
- May 30, 2016
- 2 min read

Tiga remaja perempuan dengan berseragam putih abu-abu tengah berbincang-bincang dibawah panasnya terik matahari sambil menikmati cemilan di kantin sekolah.
"kalau aja tiap hari pak herman ngak masuk" ucap gadis berambut panjang kepada para sahabatnya
"iyaa yahhh. Nikmatnya hidup ngak ada pak Herman. HAHAHA" balas salah satu diantara mereka sambil memakan roti kesukaannyaa
"hushhhh ngak boleh bilang gitu ahh. Kita udah lambat banget loh pelajarannya, 6 bulan lagi kitakan mau UN" sahut gadis berkacamata.
"yaelahhhh, lea sayang 6 bulan itu masih lama kali. Nikmati aja dulu hari libur tanpa pak herman." Kata naomi gadis berambut panjang tadi.
"iya nihh lea terlalu kaku, ngak usah belajar terus kali le. Nanti juga lulus kok" sahut riani sambil kembali memakan rotinya
Lea hanya menatap sekilas kedua temannya dan kembali melanjutkan membaca buku yang ada didepannya.
Lea bukannya tidak ingin menikmati masa-masa akhir di SMA namun dia harus belajar dengan giat agar bisa lulus ujian dengan nilai yang baik dan masuk universitas impiannya. Dia ingin menjadi seorang dokter seperti ibunya. Dia ingin menunjukkan kepada orang-orang diluar sana bahwa dia dapat meraih cita-citanya tanpa bantuan kedua orangtuanya.
Dia ingin orang-orang menghargainya karena kemampuan yang ia punya. Bukan karena embel-embel kedua orangtuanya.
Kedua orangtua Lea merupakan orang yang sangat disegani. Lea lahir dari keluarga yang sangat berada. Ayahnya adalah pemimpin sebuah perusahaan properti dan ibunya merupakan seorang dokter beda jantung yang sangat terkenal. Meski kedua orangtua lea sangat sibuk, mereka selalu menyempatkan waktu mereka untuk menghabiskan waktu keluarga, 1 atau 2 kali dalam sebulan.
Lea berjalan dikoridor sekolah sambil membaca buku dan meminum jus yang dia beli tadi. Lea tidak menyadari didepannya ada sebuah tong sampah.
"Hey, stop disitu"
Lea mencari sumber suara itu namun tetap melangkahkan kakinya dan akhirnya
AHHHHHH.. Dia menambrak tong itu dan jatuh dengan gaya yang mengerikan.
Semua orang yang berlalu lalang di sekitar koridor tiba-tiba berhenti dan memperhatikan Lea. Ada yang merasa kasian,ada juga yang tetawa.
Lea sangat malu dan masih tetap diposisinya. Lalu sebuah tangan terulur padanya.


























Comments